Skenario tuhan begitu indah menyatukan seseorang yang tak saling mengenal dan memisahkan seseorang yang sudah lama menjalin persahabatan. Perjalanan hidup yang sudah berlalu, berakhir dengan kepiluan nan panjang. Siang tanpa sinar menghasilkan redup, dilihat dengan awan yang merasa ragu menurunkan cairan yang disimpannya. Jendela menjadi figuran akan ketermenungan yang mendera dalam perjalanan hidupku yang penuh lika-liku, menanggapi sekenario tuhan yang penuh rintangan dan perubahan dengan bernafaskan keindahan dan kesedihan.
Sorotan mataku tetap kedepan menatap lambaian dedaunan yang diterpa angin malam, persahabatan yang selama ini aku alami semakin hari semakin menjadi-jadi, dengan tatapan yang tak lagi diiringi senyuman. Sejuta butiran yang bernafaskan cairan jatuh begitu saja di langit yang penuh dengan awan hitam. Sehingga menghadirkan genangan di setiap jalan peraspal, tumpah ruah beserta angin yang menghembus dahsyat dan tak bisa ditahan dengan baju yang hangat akan kedinginannya, bercucuran bak air mata yang penuh dengan kepedihan. Letupan demi letupan di setiap jalan menghasilkan gelembung yang lambat laun mengikuti arus aliran air hujan di jalan nan basah, letupan itu kembali datang dan meletus setelah menjadi gelembung. Langit tak ada cairan yang dapat aku tatap, namun ketika aku lihat asrama, cairan itu bergantian jatuh membuat dedaunan layu diterpa kerasnya cairan yang jatuh begitu cepat.
Tergenang dengan lantunan syahdu yang berangan akan sejuta kenangan yang sudah terbang diterpa sejuta perundingan di setiap kebersamaan yang sempat terjalin erat dalam ukhuwah persahabatan, bak genangan air di permukaan trotoar menjadikan sejuta cairan perlahan-lahan hilang mengikuti arus yang panjang menuju selokan dan pergi jauh entah kemana. Aku ukur persoalan-persoalan yang perlahan hadir dengan beribu-ribu pertanyaan yang membuatku tertunduk dalam irama yang penuh penyesalan saat setelah itu semua menjadi kenangan di benak. Aku bangun persahabatan dengan design bangunan yang indah nan mempesona, namun terbongkar bak rumah-rumah di tanah Palestina dengan rasa sesal di dada. Bersama sahabat yang hanya menyisakan sekelebat permasalahan yang telah dibangun dengan kebersamaan, membuat kata-kata sahabat hilang berganti kebencian yang berabad-abad.
Terhubung dengan jalinan ukhuwah yang membisu menghasilkan redupnya sinar persahabatan, membuat sejuta insan heran akan hal itu. Berkesenambungan yang berubah perundingan dengan hanya secuil masalah mengubah dunia yang cerah menjadi perpisahan diantara dua insan yang selama ini bercengkrama di atas permukaan bumi dan di bawah terik matahari. Aku mengungkap itu semua menjadikan cerita yang bernafaskan sakit di dada. Saat aku bersama dengan irama tawa bersanding canda tak terasa bagiku, namun saat itu semua hilang dengan berjuta kenangan yang mengambang jauh di atas sana, kebersamaan yang dulu tak kurasa kini terasa saat perpisahan hadir yang beriringan kebencian dalam perjalanan hidupku, perubahan antara sahabat dan kebersamaan menjadi kebencian mengubah secara drastis tingkah laku ketika bersama dulu.
Sahabat, kamu tau? Disini aku menjerit, sesal, menghilangkan berjuta-juta kenangan di antara kita. Beralih pada cerita yang menghantarkan pada arti persahabatan yang sesungguhnya. Sedih saat sahabat bersedih, senang saat sahabat senang dengan sejuta harapan untuk tidak selalu kehilangan antara satu sama lainnya, kebersamaan yang sesungguhnya dalam persahabatan tidak selalu hilang antara satu sama lainnya, kebersamaan yang sesungguhnya dalam persahabatan bukan ketika kita bersama melainkan ketika kita tidak merasakan sejuta kenangan yang begitu indah kala itu, namun ketika tibanya perpisahan dalam iringan air mata dan teringatnya kenangan terdahulu, dan yang dapat kita rasakan sesungguhnya pula saat perpisahan itu tiba semisal waktu yang tengah bersanding dengan berjuta masalah yang membuatku merasa bersalah pada sahabat dan sekarang aku mengingat akan kebersamaan itu yang membuatku tau arti sahabat yang sesungguhnya dan itu semua perih rasanya.
Maron. SA
Ahad, 03 April 2016
05:20 WIB
Sip makasih
ReplyDeleteOke, sama2 brother
DeleteBagus..suka bacanya..
ReplyDeleteoke, thanks
Delete