-->

AH, FAHRI

Saya sekarang sedang bingung, ditambah pusing tujuh keliling. Penyebabnya adalah tidak terselesaikannya banyak tugas yang harus secepatnya diselesaikan. Di Al-Ikhwan, sebagaimana yang saya ceritakan sebelumnya, ada deadline tugas untuk segera menerbitkan majalah itu dalam waktu kurang dari satu bulan. Saya merasa tidak yakin itu bisa dilakukan, mengingat masih terlalu banyak yang tidak diselesaikan.
Di kampus juga. Sekarang saya sudah di semester 8, semester terakhir untuk jenjang S1. Sibuknya adalah di pembuatan skripsi. Karena sampai saat ini, saya belum menyempatkan diri untuk sekedar mengajukan judul dari tugas terakhir kampus itu. Padahal deadline adalah april ini. Saya tidak mengajukan karena saya bingung. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Tak terbenak di dalam pikiran ini, satu materi pun yang berkenaan dengan itu.
Saya bingung, apa yang harus saya lakukan menghadapi ini semua. Karena selain masalah yang harus secepatnya diselesaikan ini, tugas-tugas besar lainnya sedang menanti. Di Pesantren, saya sebagai sekretaris, harus menyiapkan banyak hal, termasuk jadwal rapat untuk validasi tentang keputusan rencana program dan anggaran. Di samping itu, menjelang pemberangkatan GT, menjelang bulan Ramadan, banyak sekali yang harus dilakukan. Sedang saya sekarang tengah berada dalam kebingungan yang mememuncak. Bingung harus  melakukan apa.
Ah, Fahri. Saya kagum padanya. Dia adalah sosok teladan untuk saya saat ini. Andai saya bisa meneladaninya. Fahri, sebagaimana diceritakan di AAC 1 dan 2, adalah sosok yang luar biasa. Dia adalah pejuang keras. Kesibukan di sana-sini bisa dihadapinya dengan rapi, dan tanpa meninggalkan yang lainnya.
Seperti di AAC 1, saat dia harus menyelesaikan proposal tesis, dia juga harus menyelesaikan proyek terjemahannya. Di tambah dia harus mengerjakan banyak hal, seperti talaqqi, mengurusi Noura, memehuni permintaan orang Amerika yang bersama Aisha, dan lain-lainnya. Dia konsisten. Meski berat, meski tubuhnya tidak kuat, tapi jiwanya tangguh. Dia tak gentar, misal ketika harus keluar dari apartemennya menuju tempat talaqi Syaikh Utsman, sedang cuaca di sana sedang panas-panasnya.
Sang penulis, Kang Abik, memang luar biasa mengisahkan sosoknya. Dan untuk pemuda, seperti saya, tentunya ingin sekali menirunya. Ingin sekali diri ini meniru dia, seperti saat ini. Tapi, bagaimana caranya?
Fahri itu pejuang keras dengan kapasitas yang sesuai. Sedang saya? Sulit sekali menghilangkan kebiasaan buruk dalam diri, menahan godaan nafsu yang kadang tidak terbendung. Hingga saat ini, apa yang harus saya lakukan? Apakah saya akan berdiam diri, mematung, tanpa mengerjakan apa-apa? Hingga sebagaimana yang banyak terjadi sebelumnya. Saat saya mengalami kegagalan-kegagalan, dan kemudian menyesalinya di akhir. Saya bingung.
Ah, Fahri. Bisakah saya menjadi seperti dirimu? Atau setidaknya bisa meniru apa yang bisa kau lakukan?
By : Abdullah SM, 17/3/2016, 16.09 WIB

Related Posts

There is no other posts in this category.

Post a Comment