-->

Berbagi itu Indah, Memberi itu Sadaqah

Berbagi itu indah, memberi itu sadaqah. Maka mencoba untuk berpikir bagaimana kita dapat menjadi insan yang dapat memberi manfaat kepada orang lain. Untuk melakukan itu kita harus memulainya dengan diri kita sendiri. Jangan memberi sebelum kita mencoba terhadap diri kita sendiri. Agar tercipta suatu keselarasan antara kita dan orang yang kita beri. Dengan berdalihkan rasa cinta damai antara sesama. Tidak ada salahnya mencoba untuk meraih cita-cita. 
Menjadi seorang yang dapat memberi pencerahan terhadap orang lain merupakan nilai yang tidak ada batasnya. Saya kira tulisan ini perlu adanya introspeksi diri sebelum pembaca dapat menikmati. Namun saya mengharap tulisan ini bisa bermanfaat baik diri saya dan sesama.
Perumpamaan yang terpenting dalam tulisan sederhana ini adalah LILIN. 
Lilin itu panjang dengan putih yang menghiasi indah tubuh mungilnya disertai dengan satu rambut bak uban di kepalanya. Walaupun lilin hanya mempunyai satu rambut ia tidak pernah mengeluh tetap bersyukur dengan selalu memberi pencerahan dalam kegelapan. Kita yang dikaruniai banyak rambut tidak dapat mensyukuri nikmat yang diberikan-Nya. Malah ada yang rambutnya seumpama bulu binatang, sebut saja tupai. Lilin tidak pernah seperti itu karena ia tau bahwa tugasnya hanya menyinari untuk menerangi kegelapan, hingga ia relakan rambutnya terbakar demi hadirnya penerangan, sehingga saat kegelapan kita butuh benda mungil itu. Tapi kita bagaimana? Apa yang akan kita relakan demi memberi manfaat kepada sesama? Sejauh ini sulit kita temukan, karena semua itu jarang kita lakukan padahal sadaqah sama halnya dengan menabung untuk membangun rumah yang megah di surga kelak. 
Namun saya kembali berpikir, kalau lilin memberi manfaat kepada orang lain namun tubuhnya terkelupas dan hancur lebur tentu perlu adanya kesadaran bagi umat manusia dalam memaknai lilin. Setidaknya kita tidak seratus persen meniru lilin, kalau kita memberi kemanfaatan kepada orang lain, maka berusahalah untuk kita lakukan kemanfaatan itu pada diri kita sendiri juga. Perlu adanya penyesuaian dalam beradaptasi demi terciptanya asumsi Islam dalam diri. Memberi manfaat itu untuk orang lain dan sejatinya untuk diri kita sendiri. Agar kita tau bahwa kita bukan bedebah yang hanya menghumbar kebaikan kepada orang lain, sedangkan diri kita masih kurang baik, maka kita baik kepada orang lain dan baik kepada diri kita sendiri pula. 
Oleh karena itu, tidak ada salahnya mencoba untuk berbuat baik, berusaha menjadi yang terbaik dan lakukanlah yang terbaik agar timbul kesadaran bagi kita sendiri dan orang lain. Bertujuan meningkatkan pola pikir yang baik itu harus tertanam dalam jiwa yang senantiasa berusaha untuk dapat memberi pencerahan dengan bertujuan hadirnya rasa cinta damai antar sesama umat manusia. Itulah hakikat Islam. 
Khoirunnas Amfa’uhum Linnas…!!! 
By : Maron SA.    
Sabtu, 12 Maret 2016

Related Posts

Post a Comment